My prince love

Garuda-IndonesiaTak ada seorang pun yang bercita-cita hanya sebagai karyawan, ataupun bawahan semata.
Semua orang ingin jadi pemimpin, semua orang ingin jadi pengusaha, semua orang ingin memerintah.
Tapi tak semua orang berhasil meraihnya, tak semua orang jadi pimpinan, tak semua orang jadi pengusaha.
karena jika semua orang menjadi pengusaha, siapa yang jadi karyawan ???
Jika semua orang jadi pimpinan ataupun bos, siapa yang akan jadi bawahan ???
Jika semua orang ingin memerintah, siapa yang akan di perintah ?
Sesungguhnya semua telah diatur sama sang pencipta…
Setiap orang dengan rejekinya masing-masing.
Hanya beberapa orang saja yang jadi pengusaha termasuk cita-citaku.
Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah aku bisa menggapainya ?
Apakah aku bisa jadi pemimpin ?
Apakah aku bisa bertanggung jawab atas hidup banyak orang ? seperti mama dan papa ? seperti kakak dan abang ku ?
Tapi cita-cita, tetaplah cita-cita yang harus di capai bagaimanapun sulit dan mustahilnya, seperti kata pepatah mengatakan, gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit dan rendahkanlah hatimu serendah mutiara di dasar laut.
Tapi kenapa harus setinggi langit ?
Kenapa harus serendah mutiara di dasar laut ?
Karena bintang di langit itu indah dan dapat di pandang serta dinikati semua orang keindahannya, maka di harapkan cita-cita itu akan jadi berkat bagi semua orang yang membutuhkannya nanti.
Sedangkan mutiara didasar laut, sebagaimanapun dia dalam dan sulitnya, orang akan terus mencarinya karena hasilnya menenangkan jiwa oleh kilau sinar sang mutiara.
Tapi jika cita-citanya hanya digantung saja juga percuma, sesungguhnya cita-cita itu harus kita realisasikan dan kita usahakan sekuat tenaga selama nafas kita masih di kandung badan.
Dan cita-citaku ingin jadi pengusahapun begitu, cita-cita masa kecil, masa sekarang dan masa yang akan datang.
Tapi seiring berjalannya waktu, cita-cita lama itupun terkubur dalam jiwa bertahun-tahun lamanya, terkubur oleh comfort zone yang menyelubungiku, sebuah keadaan yang seakan membuatku nyaman ternyata menghancurkan ku.
Confort zone yang membuatku tuli atas nasihat dan saran dari kaka dan abangku untuk membangun bisnis sendiri, supaya bisa seperti mereka.
Confort zone yang menginabobokan ku dalam penjara kemiskinan alias ekonomi yang pas-pas an.
Tapi cita-cita itu muncul kembali saat ketika aku dihujani dengan kata-kata makian dan sumpah serapah pak bos. Saat itu hatiku terluka, hatiku menangis, ingin rasanya aku berlari berteriak dan menangis sejadi-jadinya di tengah hujan yang sangat deras hingga tak seorangpun yang mengetahui bahwa hatiku terluka.
Ku ingin berlari ke pelukan mama dan papa ku saat itu juga, menangis sekuat yang aku bisa.
Mungkin karena dari kecil aku tidak pernah mendengarkan makian seperti itu, tapi sebagai bawahan, aku hanya bias diam dan menunduk lemas. Bagaimanapun aku harus mematuhinya sebagai bos ku.
Seandainya aku tidak dipermalukan di depan semua karyawan, mungkin hatiku tak sesakit ini, seandainya hanya empat mata dia menegurku, mungkin tak sedalam ini rasa sakit yang kurasa.
Ku tak mampu berkutik, ku tak mampu mengucapkan sepatah katapun pembelaan diri, karena bagaimanapun bos tidak pernah salah, dan itu akan percuma saja.
Walau pahit, akan tetap aku jalani hingga saatnya nanti aku menjadi pengusaha dan aku tak akan melakukan hal yang sama kepada karyawanku nanti, itu janjiku.
Tapi bagaimana aku bias jadi pengusaha jika modal saja tidak punya ? bahkan gajiku hanya cukup untuk makan saja tanpa ada sisa setiap bulannya.
Minta modal sama mama, malu….
Bagaimana aku bias membangun usaha jika aku sendirian ?
Ok…saya harus cari partner yang benar-benar se- visi dengan ku, tapi dengan siapa yah ?
Oh ia….aku baru ingat, waktu itu aku dan heni pernah membicarakan akan membangun sebuah bisnis beberapa tahun lalu, hanya saja terhalang oleh modal yang tak memadai.
Heiiii…..honey…”sapaku di telepon”
Hei……long time no see….” Seru heni membalas dari seberang.
By the way… kamu apa kabar ? “ tanyaku ingin tau kabarnya yang sebenarnya “
Aku baik-baik aja nih, oh ia..kamu apa kabar ? “ Tanya heni balik..”
Aku kabar baik hen…
Tumben banget loe telpon gue, ada apa ? biasanya Cuma cumi….” Ledek heni…
Gue kangen banget sama loe…kira-kira kapan kita bias ketemuan ?
Gue tau nih pasti ada maunya “ tebak heni…”
Nggak juga sih, hanya ingin bertemu kamu aja, kan udah satu tahun ini kita tidak pernah ketemu…
Ia juga sih, boleh deh nanti hari sabtu di café bumbum yah…” seru heni antusias “
Ok deh, sampai hari sabtu yah hen….” Seru ku membalas sembari menutup telepon dan meletakkannya di atas buku hitungan prediksi bisnis yang aku inginkan. Buku yang akan aku tunjukkan untuk heni sabtu nanti dengan harapan heni mau gabung bersamaku.
***
Sabtu yang di tunggu-tunggu pun tiba membawa sinar terang sang harapan, dan aku sengaja dating lebih awal untuk mempersiapkan semuanya, memesan makanan dan segala hal yang diperlukan untuk ngobrol lebih lama di café ini.
Hei…..kinan….” seru heni begitu melihatku sibuk memeriksa buku hitungan itu, memastikan bahwa semuanya telah finish “.
Hei…” teriakku melambaikan tangan dan spontan berdiri .
Udah lama nunggu ? “ Tanya heni membalas pelukanku “
Nggak kok, baru 5 menit “ jawabku santai sembari duduk dan meraih gelas yang ada di depanku.
Dan tanpa membuang banyak waktu, aku menjelaskan pada heni semua yang telah aq rencaakan, dan praise the lord heni setuju untuk bergabung dalam hal memulai bisnis dengan satu syarat “ kita berdua tetap di tempat kerja masing-masing hingga saat dimana usaha kita mulai bias berdiri “.
Ternyata jadi pengusaha itu tidaklah gampang, suka dukanya begitu banyak, ternyata tak semudah yang aku pikirkan selama ini.
Di tolak, diabaikan, diusir, dibentak hanyalah sebagian dari perjalanan awal, sesungguhnya berat.
Pertama saat mencari tukang jahit, semua beralasan, ada yang ingin jadi tukang jahit keliling selamanya, ada bentrok dengan honor dan adapula yang tidak begitu berpengalaman dalam hal menjahit.
Tapi pada akhirnya kita menemukan seorang penjahit yang terbilang cukup mahir yang mau ikut bergebung dengan kita setelah mendengar penjelasan tentang bisnis yang akan kita jalankan, yups….itu taking jahit yang ke 50 kita temui.
Yang kedua saat mencari kain gulungan yang murah, harus rela desak-desakan di toko grosir dan tawar habis, panas, lapar dan tak jarang kami kena semprot ocehan pedagang kain itu.
Sedih, capek, lelah, semuanya campur aduk.
Keputusasaan itu rasanya begitu dekat, hingga membuat ku sress tingkat dewa.
Apa semua pengusaha itu melalui jalan seperti ini juga ???
Hen….kamu yakin nggak sih soal usaha kita ini ? “ tanyaku terbaring lelah di kasur “.
Aku sih yakin, tapi klo lihat kamu seperti ini juga saya kasihan, kan kamu belum pernah secapek ini, maklumlah anak manja “ jawab Heni mencoba untuk memahami keraguan ku “.
Heni memang perempuan tangguh, pekerja keras dan disiplin. Beda dengan ku, aku cewek manja yang nggak bisa apa-apa, yang gampang lelah dan terluka.
Gimana kalau libur lebaran ini kita refresing ke medan ? liburan sekalian cari inspirasi disana, gimana menurut mu ? “ Tanya heni berusaha ingin mengembalikan semangatku “.
Itu mah namanya nggak liburan, itu namanya pulang kampong “ jawabku kesal”.
Itu dia maksudnya….
Tapi boleh juga sih ….
Tuh kan…apa gua bilang ??? sekalian kita nyobain bandara baru di silangit “ seru heni begitu bersemangat”.
Baiklah “ jawabku mengiyakan hanya untuk tidak menghancurkan semangatnya “.
****
Akhirnya libur lebaran pun tiba dan semua sudah ready dan tinggal berangkat, tapi jujur sungguh aku tak begitu antusias pulang kampong hari ini, beda dengan tahun – tahun sebelumnya, karena aku belum bisa membahagiakan ayah dan ibu. Yah …minimal aku tidak membebani mereka dengan nasibku yang belum jelas.
Huffff…..
Kinan ….loe ngelamun yah ???
Nggak kok…
Buktinya aja dari tadi kamu nggak ngeliat tuh cowok dari tadi ngeliatin kamu mulu “ seru heni berbisik “.
Siapa ? “tanyaku dan melihat ke sekeliling “
Yang pake baju semi jas dengan kaos putih di dalamnya “ tunjuk heni kearah laki-laki yang berdiri tidak begitu jauh dari kami, sepertinya dia pilot “ tebakku dalam hati dengan memandang sekilas ke arahnya dan kemudian berpaling“.
Itu mah biasa hen, cuekin aja, namanya juga orang punya mata yah pasti melihat lah…
Atau mungkin dia terpesona dengan kecantikan ku, seru ku bercanda untuk mencairkan suasana dan mengalihkan perhatian heni dari laki-laki itu.
Idihhhhhh…… ge..er …banget….” Seru heni mencibirku sembari mengejar langkahku menuju pintu keluar mendapatkan pak dedi, sopir yang kami sewa untuk 5 hari liburan di kampong tuk-tuk kelahiran ku.
Yah…Ki…kok langsung pergi sih, kan kita belum sempat kenalan sama tuh cowok ganteng “ protes heni masih berjalan menoleh ke belakang “.
Kalau jodoh nggak bakalan kemana, percaya sama aq “ bujukku mengurangi rasa kecewanya “.
Gimana kalau nggak ketemu ??? “ rengek heni lagi….
Oh my God….klo yang ketemu, kan masih banyak cowok yang lain yang lebih ganteng malah…seruku mulai kehabisan kesabaran dengan menarik paksa tangan heni masuk ke dalam mobil. Akhirnya dengan wajah masih kesal, heni masuk ke dalam mobil.
Cukup melelahkan perjalanan kali ini, entah kenapa mobil begitu banyak antri di parapet menunggu giliran masuk kapal fery, kapal penyeberangan satu-satunya ke kampung halaman ku.
Harus nya kita tadi lewat jalur lain aja, protes heni lagi…
Entah apa yang terjadi dengan heni, tak habis-habisnya dia protes sepanjang perjalanan begitu tak jadi kenalan dengan pria misterius tadi yang dianggapnya seganteng bintang film itu, hmmmm….ada rasa kesal sedikit terselib di jiwa seandainya menuruti permintaan heni untuk kenalan dengan pria itu, mungkin heni sudah bisa menikmati liburannya kali ini.
Setelah hamper 4 jam akhirnya kami berhasil menyeberang dengan selamat, jam 8 malam tepat saat mobil parker di depan hotel Raja Tuk-tuk, hotel milik mama dan papa.
Ki…kita kok ke hotel sih, hadeh….kan mahal…” protes heni menggenggam erat tangan ku tak mau keluar dari mobil dan ngotot ingin pulang ke rumahnya saja yang memang sedikit jauh dari rumah ku, butuh sekitar 4 jam, so aku putuskan untuk mengantarkannya besok hari sekaligus keliling samosir mencari sang inspirasi yang entah bersembunyi dimana.
Udah tenang aja, gratis untuk kita, bujukku menarik lembut tangan heni keluar dari dalam mobil lengkap dengan tas ransel kecil yang selalu menempel di punggunggnya.
Selamat malam mba…mama sama papa ada dimana ? “ tanyaku ke salah satu cewek cantik yang tidak lain adalah resepsionis di hotel mama.
Ada di rumah non, silahkan masuk aja….seru perempuan cantik itu.
Loe tinggal disini Ki ? “ Tanya heni kebingungan “
Bukan tinggal disini tapi di pavilion belakang, kalau yang ini untuk para tamu yang sedang berlibur dan menginap disini “ jawabku menjelaskan.
Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita sih ki, kalau begitu kan nggak usah kita bersusah payah membangun usaha, “ seru heni lagi menatap kesekeliling hotel”.
Aku mau punya usaha sendiri “ jawabku singkat “.
Anak mama pulang kok nggak bilang-bilang sih saying, kan bisa di jemput sama papa, “ seru mama membawaku dalam pelukan hangatnya begitu juga dengan papa.
Oh ia ma, kenalin ini teman Kinan, namanya Heni “ seruku memperkenalkan Heni “.
Heni….tante…” seru heni mengulurkan tangan nya .
Kalian naik apa kesini “ Tanya mama dengan kwatir yang terlukis jelas di wajahnya “.
Kami nyewa mobil ma, untuk 5 hari ke depan “ jawab ku singkat membantingkan tubuh lelahku di sofa putih bersih itu “.
Anak mama emang udah punya banyak uang sekarang makanya nggak minta mama jemput ? ka nada mobil hotel “ seru mama sedikit kecewa “.
Nggak sih ma, Cuma nggak mau merepotkan saja, kan mobil hotel juga pasti banyak yang sewa nanti “ bujukku mengurangi kekecewaan di hatinya”.
Abang sama kakak, tau Kinan pulang kampung ?
Nggak lah ma, aku pulang diam-diam, malas soalnya diledekin mulu mam, mentang-mentang aku nya kere.
Jangan begitu dong saying ku, udah omongan kakak sama abang mu jangan di ambil hati, jadikan itu motifasi, mama sama papa yakin kok klo Kinan nantinya akan jadi sukses.
Doain yah mama…” seruku memeluk manja mama.
Mam…lapar…..rengekku begitu di pelukan mama.
Hm…. Kebiasaan nih boru nya mama selalu saja lapar kalau lihat mamanya “ seru mama menatahku berdiri dan mengajak ke dapur hotel untuk memasak makanan untukku.
Ia dong ma, soalnya mama tuh koki terhebat diseluruh dunia “ pujiku tetap nempel dalam pelukannya”.
Mam….gimana hotel kita liburan ini ? apa semua kamarnya penuh ? “ tanyaku sembari menemani mama masak”.
Puji Tuhan, hotel kita laris manis, baru aja tadi sore seorang laki-laki ganteng nginap disini, tak lama sebelum kalian datang.
Tumben mama ngelirik orang ganteng, apa kegantengan papa sudah luntur ??? “ ledekku mendekat dan mencicipi masakan mama”.
Nggak dong saying, papa tuh paling ganteng seluruh dunia, paling baik, paling…paling…pokoknya semuanya yang terbaik deh ada sama papa.
Hm…hm…hm…sepertinya ada yang puji-puji kegantengan papa nih, seru papa masuk ke dapur ikut bergabung dengan kami, tapi Heni tidak ikut, karena dia sudah tepar di sofa. Mungkin dia lelah….lelah protes sepanjang perjalanan karena nggak jadi kenalan degan laki-laki misterius itu.
My family is my idol…ingin jadi seperti mereka tetap mesra hingga usia senja, tak pernah sekalipun terdengat olehku pertengkaran ataupun bentakan, papa dan mama saling memuji satu sama lain. Mereka berdua benar-benar jadi contoh yang baik untuk anak-anaknya dan bukan hanya untuk anaknya saja tapi juga pada lingkungan sekitarnya. Banyak orang yang iri sama aq, mereka iri karena aku punya keluarga yang harmonis dan dermawan.
Namun tak banyak orang yang tau tentang ekonomi keluarga ku yang terbilang mapan, termasuk Heni teman satu sekolahku di SMA, karena kami diajarkan untuk hidup sederhana namun tetap bisa berbagi.
Ah rasanya seluruh hidupku tak cukup untuk menceritakan kekagumanku pada papa dan mama.
Hehehehehe….kedengaran sedikit lebay sih seperti kata anak-anak muda jaman sekarang, yang artinya berlebihan. Tapi memang itu keyataan yang ada.
Hamper seluruh kecamatan mengenal papa dan mama, dan hanya orang-orang terdekat saja yang mengenal ku sebagaimana diriku, selainya mengenalku sebagai anaknya pak Lukas.
Tada……….makannya telah siap, seru mama menyadarkanku dari kekaguman.
mmmmmm…waw…enak banget ma “ pujiku lengsung meraih piring yang disiapkan mama untukku beserta isinya.
Eitssss ….berdoa dulu “ seru mama mengigatkan ku.
Anak gadisnya papa, sepertinya kelaparan nih ma, sampai lupa untuk ajak temannya “ seru papa meledekku”.
Ooh my God, aq lupa, hmmmmm nih efek masakan mama yang luar biasa enak nih pa “ jawabku ngeles…”.
Aq panggil heni dulu yah ma, pa, makanan Kinan jangan di makan “ seruku mengingatkan “.
Ia…ia…..” jawab mama dan papa serentak.
Hen…ba.ngun,,, makan yo….” Teriakku membangunkan heni yang tertidur pulas “
mmmmm…..kamu aja yang makan, aq ngantuk “ jawab heni memperbaiki posisi dan membelakangiku.
Baiklah … seruku berlalu dan menghampiri mama dan papa kembali.
Heni nggak mau makan pa, katanya ngantuk.
Ok…berarti anak papa puas nih makan sendiri “ canda papa lagi “.
Dan tak berselang lama, makanan yang dipiring pun ludes. Mmmmm…kenyang “ terimakasih yah ma seruku mencium pipi kanannya dan bergegas menaruh piring kotornya di westafel.
Oh ia, saying kamu masih ingat tidak dengan amang boru Ridwan ??? “ Tanya papa begitu aku kembali duduk di meja makan.
Yang mana pa ?
Tetangga kita dulu loh nang, yang pindah tugas ke Jakarta itu, papanya Andi yang sering kamu panggil dengan sebutan embul “ seru papa berusaha mengigatkan ku ke memori masa lalu.
Oh ia pa aku ingat, emang kenapa pa ? Tanya ku datar….
Anaknya lagi nginap di hotel kita loh nang, dilantai 2.
Oh gitu, ngapain katanya pa ? bukannya semua keluarga mereka udah pindah ke Jakarta ?
Ia sih, katanya Andi mau temu kangen sama anak gadisnya papa.
Apa ???? si embul itu pa ? “ nggak mau ah pa, gendut banget “ seru ku mengelak.
Tapi sekarang udah ganteng loh nang, badannya atletis, itu tuh yang di bilang mama cowok ganteng yang nginap di hotel kita tadi sore sebelum kalian dating.
Serius pa ganteng ?kerja dimana pa ? pengsaha tidak ?
Serius dong saying, dia sih katanya sebagai pilot sekarang tapi selain itu dia juga punya butik sendiri.
Oh ia ???? boleh juga tuh pa “ seruku antusias begitu mendengar dia memiliki butik, itu artinya aq bisa dapat inspirasi dari sana dan bisa memasarkan baju produk kami nanti disana”.
Tunggu…tunggu…tunggu…sejak kapan anak gadisnya papa matre begitu ? “ Tanya papa mengingatkan ku untuk tidak menilai apapuun hanya dari uang “
Hehehehehhe…maaf papa, maksud kinan tuh bukan begitu, tapi kan kinan sama heni dalam waktu dekat ini akan bangun bisnis yang bergerak dibidang design baju, lebih tepatnya tuh buka butik, tapi kita masih bingung pa, cari inspirasinya dari mana ???
Kinan….” Seru Heni mengingatkanku, bahwa itu adalah rahasia “.
Upppssss…keceplosan “ jawabku segera mengalihkan pembicaraan “.
Nggak apa-apa dong nang, kan papa juga harus tau, siapa tau papa bisa bantu “ seru papa antusias “.
Kenapa sih kinan nggak mau di bantu sama papa ?
Papa kan punya uang …..
Ia sih pa, kinan tau, tapi ini bisnis kinan sama heni, jadi harus kita sendiri yang berusaha “.
Hmmmm….papa bangga sama kinan, sekarang manjanya sudah sedikit berkurang, buktinya aja sudah nggak mau minta bantuan papa, padahal dulu tuh, apa-apa selalu ke papa, sedikit-sedikit selalu ke papa, tapi papa kan jadi kangen nang, anak gadisnya papa terlalu cepat dewasa. “ seru papa terharu menitikkan air mata”
Kok papa menangis sih ? kinan akan tetap saying kok sama papa, percaya sama kinan “ seru hanyut dalam pelukan hangat sang pahlawan ku”.
Bentar lagi kinan sudah menikah, terus papa sam mama ditinggal berdua, kinan sibuk sama keluarga kinan “ seru papa lagi “
Nggak usah kwatir papa, percaya sama kinan, papa akan tetap jadi malaikat nya kinan, sekalipun kinan sudah punya suami dan anak nantinya.
Janji ??? “seru papa mencium lembut pipiku “
Janji…” seruku menjawab mantap dan meyakinkan papa “
*****
Karna udaranya sangat dingin, alhasil pagi ini bangunnya agak telat sekitar jam 8 pagi, disambut dengan matahari yang sangat cantik, namun tetap dingin, membuatku enggan beranjak dari tempat tidur walaupun Heni sudah sedari tadi bolak-balik memanggillku untuk serapan pagi.
Tapi perut yang semakin keroncongan memaksaku harus kemeja makan dengan selimut yang sengaja tetap menempel ditubuh ku.
Pagi papa, pagi mama “ sapaku dengan mata setengah melek.
Pagi tuan putri “ sapa seseorang, itu suara lelaki yang belum pernah saya dengar sebelumnya membuatku benar-benar bangun “.
Papa dan mama hanya diam dan senyum-senyum, begitu juga dengan heni.
Siapa pa ? tanyaku dengan masih tetap berdiri “.
Mbak, seliimut kinan disimpan ke kamar dulu yah “ pinta papa ke salah satu pelayan “
Hei kinan, sudah nggak ingat sama ku lagi yah, seru laki-laki itu mendekat “
Siapa ??? “ tanyaku jutek “
Aku andi….”
Serius andi ? tanyaku lagi tak percaya. “ bukannya kamu yang dibandara kemaren sore itu ? “ tanyaku lagi “.
Betul banget, tapi aku dicuekin sama kamu….hmmmm kezal….
Emang kamu kenal sama aq ? “ tanyaku sembari duduk dan menyantap roti panggang kesukaan ku “
Kamu aja nggak sadar, sebenarnya kamu selalu aku pantau, aku tau kamu tinggal dimana, kerja dimana, hang out dimana, pergi sama siapa ?
Kok bisa kamu tau semuanya sih ???? serem banget….kayak mata-mata aja “ seru ku kesal “.
Nang…kok ngomongnya ketus begitu sih ? dia tuh tamu kita loh nang, dia udah jauh-jauh dating dari Jakarta Cuma ketemu kamu.
Yah tapi kan pa….
Nggak ada pake tapi saying ku, harus bersikap manis “ pinta papa menyarankan “.
Ia pa “ jawabku dengan sedikit masih kesal dan bergegas ke taman belakang yang pemandangannya langsung menghadap danau toba.
Hei…..kok masih disini aja sih ? “ seru andi menghampiri ku “
Hadeh…..sepertiinya ini mah bukannya dapat inspirasi tapi dapat emosi “ gumamku dalam hati “.
Tapi dalam marah dan kesal ku, terselib rasa haru karena Andi tetap tak bergeming dengan perlakuanku yang kasar dan cuek, tapi dia tetap baik. Dan sikap manisnya itu membuatku perlahan-lahan mulai lunak dan meyukainya, dalam artian bukan cinta tapi sudah akur dan mulai mau menemaninya untuk berkeliling samosir dan membuat liburannya berkesan.
Hingga tiba hari terakhir dimana kita akan berpisah, hmmm…sebenarnya bukan berpisah untuk selamanya sih, toh nanti kita tetap bisa ketemu di Jakarta, tapi entah kenapa ada rasa yang tidak ingin jauh darinya. Mungkin karena efek kebersamaan kita selama 4 hari ini.
Apa aku jatuh cinta ????
Tidak..tidak…tidak….
Hei…..” teriak Andi mengagetkan ku dari lamunan…
Hei…jawab ku datar dengan tetap menatap ombak yang kejar-kejaran.
Ada apa sih kok nggak semangat gitu ??? “ Tanya andi mengusap lembut rambut ku “
Nggak ada apa-apa sih, Cuma pengen sendiri aja .
Hmmm… ikut aku yo….aq mau ajak kamu ke suatu tempat, tapi syaratnya matanya harus ditutup.
Kenapa harus ditutup ????
Udah nggak usah banyak Tanya, surprise deh pokoknya., dijamin nggak bakalan kecewa.
Baiklah “ seruku menurut dituntun oleh nya…”
Tada………..surprise…..
Taman hotel disulap begitu romantic penuh dengan bunga-bunga, lampu-lampu yang membuatku tak mampu untuk berkata-kata, sungguh sangat indah. Tapi siapa yang mau lamaran ? “tanyaku dalam hati.
Ada banyak tamu disana, ada papa dan mama juga, ada amang boru dan namboru juga, dan juga tetangga terdekat serta para tamu hotel.
Dengan masih penuh Tanya dalam hati, sepertinya ada pest ataman nih ? tapi siapa ? kenapa aku dituntun kesini ? kenapa andi bilang surprise ???
Happy birthday to you…happy birthday to you…happy birthday…happy birthday…happy birthday to you….
Nyanyian yang membuat air mata tak henti-hentinya membasahi pipi ku, bahkan aku sendiri lupa kalau hari ini adalah ulang tahun ku, ulang tahun ke-25 sekaligus ulang tahun pertama kali dirayakan, karena biasanya hanya tiup lilin bareng mama dan papa setelah itu kita makan bersama.
Selamat ulang tahun anak gadisnya papa, seru papa memelukku dengan sangat erat dan penuh cinta, begitu juga mama. Aku beruntung dilahirkan sebagai anak bungsu, dengan begitu aku mendapatkan begitu banyak cinta, perhatian dan semua yang baik, dan mungkin itu yang membuatu selama ini jadi orang yang manja dan sedikit cengeng, tapi tentu saja punya hati emas, “ begitu kata papa dan mama”.
Hei…tuan putrid…selamat ulang tahun yah “ seru Andi mencium lembut keningku dengan kotak kado kecil yang diletakkannya di tanagan kanan ku.
Terimakasih andi, tapi ini apa ?
Itu Cuma kado kecil, buka aja “ pinta Andi menyarankan “.
Cincin…..????
Yups…itu cincin…kamu suka nggak ???
Tapi kan ini cincin emas ? mahal harganya ??
Bagiku mahal tak jadi masalah, karena itu buat orang yang paling berharga di hidup ku.
Maksudnya ? “ tanyaku heran “
Maksudnya tuh, pariban kau ini sudah lama suka sama kinan, jadi dia memohon-mohon sama amang boru sama namboru mu juga untuk dating melamar kinan. Padahal banyak kali nya perempuan cantik yang mau sama dia, tapi dia tidak mau, harus kinan katanya “ seru amang boru dengan logat bataknya yang sangat kental, membuatku sedikit lucu, sekalipun sudah lama di Jakarta tap logatnya tetap tidak bisa hilang “
Kenapa bisa begitu ?
Melamar gimana maksudnya ?
Kenapa harus aku ? “ Tanya ku menghujani amangboru dan namboru dengan pertanyaan dengan terbawa logat nya “.
Tanya sendiri lah sama pariban mu ini, sudah lama kami suruh dia untuk nikah, tapi katanya harus tunggu kinan cukup umur hingga umur 25, pusing amangboru mendengarnya.
Maaf amang boru, Kinan belum begitu mengenal Andi, lagipula kinan sudah punya pacar amongboru jadi aku tidak bisa menerima lamarannya. “ tolakku secara halus, sekalipun benih-benih rasa nyama itu telah tumbuh di sudut hati paling dalam.
Penolakanku ternyata tak membuat andi bergeming, dia berusaha begitu rupa dengan penuh cinta bahkan lebih dari sebelumnya sehingga membuat pacarku gerah dan memilih untuk mundur, sekalipun saya telah menjelaskannya panjang lebar. Tetapi dia tidak mendengarkannya, dia minder terhadap Andi yang punya tampang ok dan karir ok. Sungguh tak kuasa aku menahannya untuk tetap bersama ku, sekalipun hati ini masih bersamanya.
Hadeh…..pusing….kenapa semua ini harus terjadi ??? pulang kampung mau cari inspirasi, tapi kenyataannya malah makin kacau semuanya.
Oh my God….
Menepi dari keramaian kota adalah caraku mengatasi semua kekacauan yang telah terjadi dan berusaha untuk membujuk hati ini menerma kenyataan bahwasanya cintaku kandas di bulan agustus, dia yang pernah bersamaku memilih untuk pergi, kini ku sepi sendiri. Sepi di keramaian, dan menangis dalam tawa.
Hello…nang, kamu dimana “ sapa papa di telepon dengan suara pelan Karena rasa bersalah telah menerima Andi di rumah yang menyebabbkan semuanya terjadi “.
Hello pa, Kinan lagi di villa ka Iren nih di bandung, ada apa pa ? “ tanyaku dengan suara yang tidak bersemangat “.
Apa kinan baik-baik aja?
Apa kinan sakit?
Sama siapa kinan kesana ? Begitulah ayah menghujaniku dengan pertanyaan dengan segudang kekwatiran.
Papa…kinan butuh waktu untuk sendiri.
Baiklah nang, hati-hati yah, nanti kalau ada apa-apa langsung telp papa atau ka iren atau bang Fredi.
Ok papa….
Hampir dua hari tidak keluar kamar, tidak makan tapi hanya minum membuat Mba Fatmi cemas dan mengadukan semuanya ke ka iren…
Tok….tok….tok…
Mba fatmi, aq lagi pengen sendiri ” teriakku dari dalam kamar “.
Ki….ini Andi ” suara dari balik pintu yang membuatku kaget dan bertanya-tanya dalam hati “.
Andi ???? Tanya ku lemas dengan sisa tenaga yang tersisa, efek 1 hari penuh tidak makan.
Kamu nginap disini juga ?
Nggak…” jawabnya singkat “.
Terus ngapain kesini ?
Khusus ketemu kamu ” jawabnya santai dan melangkah masuk tanpa minta ijin terlebih dahulu “.
Sekarang kamu makan dulu yah aq suapin ” pinta andi “.
Bukan makanan yang kubutuhkan saat ini tapi pelukan hangat untuk menghangatkan hati ku yang dingin dan hancur.
Kinan…kok kamu sedih…” tanya andi mendekat, meletakkan makanan yang ditangannya dan memelukku dengan begitu erat. Hingga detak jantungnya terasa olehku yang semakin kencang.
Kinan, kamu tau kan kalau aq sangat mencintai kamu, bukan maksud ku menyakiti mu, maaf kan aku. Tidak seharusnya aku hadir dalam hidupmu, tak seharusnya aku mengganggu hubungan mu dengannya. Maafkan aku ” pinta Andi menangis begitu tulus “.
Nggak apa-apa kok andi, mungkin cintanya tak cukup kuat untuk bersama ku.
*****
Andi…..
Tak pernah terlintas di benakku akan kegigihannya. Caranya menaklukkan hati ini, kesabarannya.
Dia membuat segala cita-cita ku terwujud….
Mungkin ini namanya cinta sejati, dia melakukan semuanya dengan penuh cinta tulus. Dia membawa terbang jauh hati ini mengarungi indahnya dan betapa berwarnanya hidup ini. Rasanya seluruh hidup ini tak cukup untuk mengungkapkan kekaguman ku padanya, dia membawa surga itu ke dalam keluarga kecil kami, dia ayah terbaik diseluruh dunia untuk anakku gideon dan suami terbaik bagiku.
Hidupku seperti mimpi, mimpi indah yang tak ingin terbangun dari itu semua.
Pilot sang pujaan hati ku….you are my angle who God send to me, you not only make me lucky wife & great mom for our little angle, but more than that…
you are so amazing…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s