Cita-Cita Masa Kecil

rsHallo dek…lagi ngapain ? kita pulang kampung yooo desember ini …” bujuk kak lia di telepon…

Aku yes aja sih ka, yang penting di bayarin…” jawabku bercanda…”

Kamu serius mau pulang kampung ? “ tanyanya lagi memastikan…

Ia, aku serius, biar aku yang bayar semua keperluan untuk itu “ jawabnya mantap meyakinkan ku “

Kakak serius kita akan pulang kampung ? bukankah itu pemborosan ? kan bulan februari mama dan papa akan datang ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan bang Tua ? “ tanyaku mencoba memastikan lagi niatnya untuk pulang kampung “

Ia juga sih, tapi kan nggak ada salahnya kalau kita pulang kampung “ seru ka Lia dengan suara sedikit lebih pelan “

Tapi  biar ini jadi surprise buat mama dan papa “ seru ka Lia menekankan “

Maksudnya gimana ? “ tanyaku bingung “

Yah kita nggak kasih tau ke mama dan papa kalau kita akan pulang kampung, biar mereka merasakan bahagia saat ketika melihat kita pertama kali nongol di pintu tanpa sepengetahuan mereka.

Hmm….ide yang bagus “ jawab ku singkat “

Tapi gimana nanti kalau mereka tak membukakan pintu pagar untuk kita ?  karena mereka berpikir tak kan satupun dari anak-anaknya akan pulang ? “ Tanya ku lagi setelah berpikir sejenak “

Benar juga sih, kata kamu dek …

Nanti gampang lah soal itu, kan bisa kita telepon begitu kita sampai di depan gerbang ?

Oke lah kalau begitu “ jawab ku mengiyakan ide pulang kampung “

Tapi ternyata seminggu sebelum pulang kampung, semua keluarga di Jakarta merasa sedikit keberatan dan bilang bahwa ini adalah pemborosan, terutama abang ipar kami.

Emangnya kalian udah kelebihan uang, makanya memaksa untuk pulang kampung ? mama dan papa kan akan datang ke Jakarta bulan februari, mending duitnya di kirim aja lewat ATM ke mama, atau nggak biar uang yang akan ongkos kalian pulang kampung itu kasih ke Tua aja untuk suntikan dana pernikahannya “ begitulah deretan ceramah abang ipar , untuk merubuhkan tembok tekad bulat yang telah kami bangun dengan segenap hati dan kerinduan “.

Gimana dong dek, kita jadi pulang tidak ya ? “ Tanya ka Lia kembali dengan nada suara sedikit ragu “.

Jadi dong ka, terserah apa kata mereka “ jawab ku meyakinkan “.

Emang kamu sudah ready untuk pulang ? “ Tanya ka Lia lagi dengan masih menyimpan keraguan “

Ready dong ka, emang kenapa ka ? kakak gimana ? “ tanyaku penasaran “

Aku jadi bingung dek, gimana yah ??? aku belum punya persiapan sama sekali nih …

Emangnya persiapan apa lagi ?

Semuanya …..

Kan besok masih ada satu hari untuk melakukan packing “ jawabku meyakinkan “

Ia sih, baik lah kalau begitu…” seru ka Lia di seberang masih dengan sedikit keraguan dari suaranya yang sedikit berat dan tak bersemangat “.

Emangnya kamu sudah ambil tiketnya ? “ Tanya ka  Lia memastikan sebagaimana yang ditugaskan untukku “

Udah dong ka, kita berangkat tanggal 25 jam 14.00 wib, biar kita sempat natalan di Jakarta dulu “ jawabku penuh semangat “

Baiklah kalau begitu, terus kamu datang ke tangerang, kapan ? “ Tanya ka Lia memastikan supaya tidak ketinggalan pesawat, karena memang aku masih berada  di bekasi tempat aku tinggal alias nge-kost.

Aku akan datang besok pagi-pagi sekali supaya sempat natalan di tangerang sekalian aku membawa semua barang-barang ku.

Kamu yakin akan keburu ikut ibadah natal ? “ tanyanya penuh keraguan “

Aku pasti sempat untuk ikut ibadah karena aku akan naik kreta supaya lebih cepat nyampe, lagi pula kan tidak macet …” jawabku meyakinkan “

Baiklah, sampai ketemu di gereja “ sahut ka Lia sembari menutup telepon nya.

***

Ibadah natal berlangsung dengan sangat meriah dan sukacita, dan aku berhasil untuk tidak datang terlambat hari ini walau aku harus mengganti baju terlebih dahulu di rumah pak pendeta dengan gaun yang pantas di kenakan untuk ibadah karena begitulah instruksi bang Morang begitu melihatku nongol di pintu gereja dengan mengenakan jeans dan sepatu kets abu-abu yang membuat penampilanku terlihat sporty namun tidak pantas untuk di kenakan dalam mengikuti ibadah.

Aku sangat bersyukur untuk itu walaupun baju yang dipinjamkan untukku agak sedikit kebesaran untuk tubuh mungilku, tapi tak apa, yang penting niat hatinya tulus “ gumamku mengomentari sendiri penampilan ku hari ini”.

Namun entah kenapa, aku tak bertemu dengan kakak di gereja, mungkin karena terlalu sibuk menanggapi sapaan dari teman-teman muda/I yang lama tidak bertemu dengan ku.

Kamu kemana aja sih ? “ protes ka Lia kesal “

Ia, tadi aku ngobrol sebentar bersama ka Ana di gereja “ seruku membela diri “.

Udah tau mau pulkam, kenapa nggak buru-buru pulang kerumah “ protesnya lagi….

Sudah…sudah….” Sahut ka Yun merelai….

Kamu sudah makan belum ? “ Tanya ka Yun …

Belum ka, “ jawabku datar karena masih sedikit kesal karena di omelin ka Lia, sungguh hal itu paling aku benci, aku benci diomelin…..

Kamu cepat makan gih….kakak masak makanan kesukaan kamu tuh di meja, setelah itu langsung siap-siap yah kita semua akan antar kalian ke bandara…

Ok ka…jawabku sembari berjalan mendekat ke meja makan.

***

Akhirnya kami tiba di kampung tepat jam 20.30 wib, dengan sisa tenaga setelah mendaki gunung dan menuruni bukit untuk sampai ke rumah.

Sungguh luar biasa capek, mungkin karena factor umur dan mungkin juga karena telah jarang pulang kampung, padahal waktu sekolah hal ini kecil bagiku.

Tapi lelah itu menghilang seketika melihat senyum yang terlukis di wajah mama.

Mama……..teriakku berlari kepelukannya, tubuhnya kini semakin mengecil, kurus dan kerutan-kerutan kecil itu semakin jelas di wajahnya dan rambutnya kini hampir semuanya memutih. Air mata pun mengalir deras di pipi ku, sungguh terharu dengan moment ini, moment yang tak pernah akan terhapus dari lubuk hati terdalam ku.

Papa dimana ma ? “ Tanya ku begitu menyadari bahwa sosok gagah itu tak ikut menyambut kami.

Papa ada di ruang tengah, lagi sakit demam “ seru mama dengan raut wajah sedih…”

Tanpa piker panjang aku meninggalkan ka Lia bersama mama di pintu depan dan berlari sekencang-kencangnya ke ruang tengah tempat papa terbaring lemah dengan api unggun yang siap sedia menghangatkan tubuhnya yang menggigil.

Sungguh pemandangan ini mampu menutup rapat bibirku, tak sepatah katapun mampu kuucapkan selain memeluk tubuhnya yang sangat panas dengan sangat erat dengan penuh kasih saying dan kerinduan. Air mata kembali tumpah tanpa dapat kukendalikan, melihatnya mengerang kesakitan membuat tubuhku seakan ikut merasakannya. Namun walaupun begitu, aku berusaha menyembunyikan air mata itu di balik senyuman yang terpaksa terlukis di wajah ku, karena aku tak ingin semakin membuatnya sakit dengan melihat air mataku.

Gimana nak perjalanannya ? apa kalian juga sudah makan ? “ tanyanya dengan wajah meringis kesakitan dalam balutan selimut tebal bercorak bunga-bunga itu.

Terlihat jelas di mataku betapa dia ingin sekali mengalah dari pergulatannya dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya selama seminggu ini, namun begitu papa melihat kami dating, semangatnya muncul kembali kepermukaan, semangat untuk bias sembuh dan bercengkrama bersama kami di malam tahun baru nanti.

Perjalanannya melelahkan pa, tapi begitu melihat papa, kini semua rasa lelah itu menghilang seketika “ jawabku bercanda mencoba mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit itu.

Ya udah sekarang istirahat aja dulu di kamar “ pinta ayah …”

Akhirnya aku dan ka Lia istirahat di ruang tamu bersebelahan dengan tempat papa terbaring lemah, kami sengaja memilih untuk tidak tidur dikamar suapaya tetap siaga kalau-kalau penyakit papa semakin parah. Dan apa yang kami takutkanpun terjadi, tepat pukul 2.00 dini hari mama membangunkan kami dengan wajah yang sangat panik berlinang air mata.

Bangun….anakku…” teriak mama membangunkan dan menggoncang-goncangkan tubuhku supaya lebih cepat terjaga dari tidur”

Ada apa ma ? “ tanyaku dengan mata masih tertutup “

Penyakit papa kakmbuh nak, sepertinya gawat ini…” jawab mama meninggalkanku dengan masih terbakut selimut dan berlari cepat menghampiri papa kembali di ruang tengah. “

Amangoi amang……” teriak papa kencang membuat ku melek seketika dan berlari menghampiri papa “

Papa…kenapa pa ? tanyaku panik mencoba mengurut tangan dan kakinya bergantian, begitu juga ka Lia yang sengaja kubangunkan. Namun usaha itu ternyata sia-sia, papa semakin parah dan tak karuan, semakin menggigil dan suhu tubuhnya tambah panas luar biasa.

Telepon abang mu aja, “ pinta mama menyodorkan telepon papa ketanganku, suruh ceoat-cepat dating kesini “.

Ada rasa sungkan ketika meneleponnya pertama kali karena takut mengganggu tidurnya, namun melihat keadaan papa, akhirnya aku memberanikan diri.

Hello….

Bang Nik, minta tolong dating kerumah sekarang yah bang, soalnya papa gawat darurat nih “ seruku tanpa basa – basi “.

Baiklah dek, tapi nanti agak terang dikit yah, mungkin jam 6 kami dating kesana “

Ia bang, terimakasih yah “ jawabku sembari menutup telepon dan melemparnya keatas bantal.

Namun ternyata menunggu itu sangatlah membosankan, jam seakan enggan untuk berputar, rintihan dan erangan papa membuatku semakin tersiksa.

Nanti kalau aku mati, kuburanku di buat di dekat bambu kuning itu yah nak “ seru papa dengan suara bergetar”

Seketika mendengar kata-kata itu, aku merasa setengah dari hidupku menghilang, aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam, kesunyian yang mencekam dan air mata yang tumpah.

Membisu.

Air mata yang terus mengalir di pipiku sembari terus berdoa dalam hati meminta kesembuhan dan aku berjanji jika papa sembuh maka aku akan lebih perhatian lagi kepada mereka dan akan meneleponnya setidaknya 2x dalam seminggu “ itu janjiku “.

Setalah jam 5 pagi, deru motor pun terdengar di depan pintu gerbang rumah mama dan itu membuatku sedikit bernafas lega, dengan langkah seribu berlari membukakan pintu dan benar itu mereka Bang nik beserta istrinya dating untuk memeriksa keadaan papa.

Wah ini gawat “ seru ka Feb begitu mengetahui hasil thermometer tubuh papa yang mencapai 40 “

Terus gimana ka ? “tanyaku dengan tidak sabar “

Kita harus membawa papa ke klinik sekarang, supaya di rawat disana, karena percuma juga kalau tetap bertahan di rumah nanti takutnya penyakitnya semakin parah “ ujar ka Feb membereskan peralatan medisnya “.

Ok ka…

***

Malam yang panjang pun telah berlalu….

Pagi yang cerah ini menyinari suasana hati yang gelap semalaman dan memberikan suatu harapan baru, yaitu kesembuhan papa.

Akhirnya papa dirawat di klinik 2 hari 2 malam untuk memulihkan tubuhnya, dan kami sepakat untuk bergantian jaga papa, 24 jam supaya papa tetap dalam pengawasan.

Dan malam ini adalah giliranku, aku boleh bernafas lega sekarang karena keadaan papa berangsur-angsung pulih, dengan lembut dan sangat hati-hati mengusap rambut yang mulai menipis itu, pijit tangan dan kaki bergantian serta memastikan infuse tetap jalan, hingga larut malam kantuk mengalahkanku dan tanpa sadar tertidur di samping tempat ayah berbaring.

Hei….kamu tidur aja, biar saya yang menjaga ayah kamu sampai pagi “ bisik seseorang dengan lembut di telingaku dan menyadarkanku dari kantuk “

Dokter….” Seru ku melihat sosok yang berada tepat di depan wajahku dengan mata berat “

Dokter nggak pulang ? “ jawabku basa-basi dan memperbaiki posisi duduk, dan kembali menutup mata “

Malam ini saya yang jaga “ serunya dengan suara pelan karena takut para pasien akan terbangun “

Malam pun beranjak pagi, suara pintu terbuka membangunkanku dari tidur pulas, dan dengan tubuh yang masih terbungkus jas putih.

Sus….ini jas siapa yah “ tanyaku ke salah satu suster yang masih sibuk merapikan meja dokter di dekat pintu.

Oh, itu jas nya dokter Brian mbak “ jawab suster Neni tanpa menoleh sedikit pun kearahku “

Terus sekarang dokternya kemana ? “ tanyaku ingin mengembalikan jas putih itu “.

Dokter Brian supah pergi mbak, tadi malam dia terakhir jaga disini dan tadi pagi-pagi sekali dia pergi karena akan pulang ke rumahnya di jakarta “.

Jakarta ? “ Tanya ku bingung “

Ia, benar, dijakarta “ seru suster Neni menekankan “.

Terus jasnya dikembalikan ke siapa sus ? “ tanyaku lagi sembari mengangkat jas putih itu menempel tepat dihidung ku yang pesek, hmmmmm wangi….” Gumamku dalam hati “

Tadi dokter Brian pesan, jasnya mbak bawa aja pulang siapa tau mbak ketemu dokter Brian nanti di Jakarta “

Tapi Jakarta itu luas loh sus, gimana bisa kebetulan ketemu kalau tidak di cari ?

Pasti ketemu mbak, kalau jodoh “ jawab suster Neni bercanda, mencoba membawaku keluar dari kebingangan “.

Ok deh sus kalau begitu, terimakasih ya …

Ia mba…

Akhirnya hari kedua pun telah tiba, kini keadaan papa semakin membaik dan membaik sehingga besok pagi di perbolehkan untuk pulang.

Aku dan ka Lia sangat bersyukur bisa pulang kampong kali ini, sungguh ini semua rencana Tuhan untuk membawa kami kembali merawat papa di saat sakit sehingga malam tahun baru dan sesudahnya boleh kami nikmati dengan canda tawa.

Tapi saat papa sakit, ada hal yang mengganggu pikiranku, yaitu usul dari para ibu-ibu dan bapak-bapak sekampung yang dating menjenguk.

Kalian berdua cepat-cepatlah menikah, papa dan mama kita kan sudah mulai tua, jadi kalian harus mengambil kesempatan ini untuk segera menikah, mumpung papa dan mama masih bisa sehat dan kuat “ begitulah saran mereka yang juga menular ke papa dan mama yang ikut-ikutan menyuruh kami menikah juga “.

Mungkin tanpa disuruhpun, aku akan menikah jika telah menemukan orang yang cocok denganku “ gerutuku dalam hati “.

***

Akhirnya liburan panjang kami pun harus segera kami sudahi sampai disini, meninggalkan mereka berdua di kampong dan kembali kerutinitas kantor di Jakarta, sungguh berat memang, tapi apa boleh buat, hidup harus tetap berjalan, atau seperti yang biasa di katakan orang-orang diluar sana “ life must go on “.

Setelah hamper selesai berpakaian di dalam kamar, “ nak, cepat, nanti kalian terlambat…” seru mama mengingatkan dari meja makan “.

Ia mama, sebentar lagi “ jawab ka Lia “

Rupanya papa dan mama telah menyiapkan 3 ekor ikan mas yang berjajar di atas satu nampan putih bertuliskan doa dengan nasi putih hangat di bawahnya.

Ada acara apa mam, “ tanyaku sedikit bingung “

Ini acara untuk mendoakan kalian berdua supaya cepat dapat jodoh dan terutama bagi Kia supaya diberikan pekerjaan yang terbaik “ seru mama menuntun kami untuk duduk di meja makan “

Hmmmmm…. Lezat….” Seru ku mengomentari ikan mas yang dimasak oleh mama untuk kami, koki terbaik seluruh dunia, masakan yang selalu menggugah selera. Dan mungkin aku tidak akan pernah bisa sehebat mama dalam hal memasak.

Sekilas aku melirik kearah papa yang seakan berat menatap kami berdua, aku tahu itu karena papa berat untuk memberangkatkan kami. Tapi itu lah kasih seorang ayah, di dalam diamnya, dia menyimpan sejuta cinta yang tak pernah habis untuk anak-anaknya, walau dia tidak mengunggkapkannya.

Peluk cium memisahkan kami pagi ini dan akan berpisah dalam waktu yang lama namun aku pasti akan kembali lagi, doaku semoga papa dan mama bahagia dan tetap sehat serta panjang umur.

12.30 wib kami mendarat di bandara soekarno hatta dengan selamat, dan aku sangat bersyukur untuk itu.

Ka, aku langsung pulang ke bekasi yah, soalnya besok ada interview kerja jam 9.00 pagi “ pintaku ke ka Lia “.

Kerumah dulu aja, biar minggu depan kamu nggak balik lagi ke tangerang, jadi sekalian kan, nanti sore kamu baru boleh balik ke bekasi “ ujar ka Lia menegaskan “.

Baiklah kalau begitu “ jawab ku mengiyakan “

***

7.00 pagi ….

Wah gawat, telat nih interviewnya, gimana dong ? “ keluhku dalam hati sembari memperhatikan angkot sesuai jurusanku “.

Tuhan, aku mohon, pekerjaan ini adalah impianku “ bisikku dalam hati seakan Tuhan bersama ku “.

Akhirnya aku tiba tepat jam 9.00 di kantor calon tempat dimana aku akan bekerja, hehehehe pede boleh lah sedikit walau belum tau hasilnya….

Sembari berjalan melewati lorong ruangan mengikuti Bu Fida salah seorang karyawan di perusahaan ini lebih tepatnya bagian Front Office menuju ruangan atas yang transparan dengan hanya di batasi oleh kaca bening sehingga semua aktifitas karyawan di kantor itu terlihat dengan jelas.

Silahkan masuk mba, “ pinta bu Fida dan membukakan pintu salah satu ruangan yang sedikit berbeda dari yang lainnya, raungan terbilang luas yang hanya di tempati satu orang. Namun ada dua orang yang sedang ngobrol di ruangan itu, yang satu laki-laki separuh baya atau boleh dibilang seumur dengan papaku dan satu lagi masih muda membelakangi pintu sehingga yang tampak di mataku hanya punggungnya yang atletis menurutku dan boleh aku tebak bahwa laki-laki itu masih muda, atau mungkin dia juga sedang test interview ???…

Selamat pagi pak, “ sapaku begitu bu Fida berpaling keluar dan menutup pintu “.

Aku pamit yah pa, seru laki-laki muda itu mencium punggung tangan laki-laki setengah baya itu.

Dokter Brian “ seru ku seakan tak percaya dan tentunya sangat bahagia bisa bertemu dengannya lagi “.

Eh…mbak…Kia “ seru Brian terkejut “.

Siapa nak ? “Tanya lelaki separuh baya itu.

Ini loh pa, orang yang aku certain tadi malam “ jawab brian dengan tetap menatapku “.

Ngapain disini ? “ tanyanya lagi penasaran.

Aku mau test interview disini “ jawabku mantap .

Serius ????

Ia serius lah…

Kalau memang Brian sudah kenal, jadi papa tidak usah menginterviewnya lagi, gimana menurut kamu nak ? “ Tanya laki-laki itu menepuk lembut pundak Brian “.

Terimakasih yah pa, “ ujar Brian membalas memeluk laki-laki itu “.

Oh ia pa, Kia rencananya memang mau ditempatkan di bagian apa pa ?

Tadinya sih mau jadi sekretaris papa, gimana menurut kamu ?

Ide bagus tuh pa, kalau bisa tinggal di rumah kita juga boleh pa, “ jawab Brian bercanda “

Kalau kamu mau Kia boleh tinggal di rumah kita.

Maaf pak tapi saya punya tempat tinggal sendiri…” seruku memotong pembicaraan asik mereka berdua” karena aku tak ingin memanfaatkan keadaan yang seperti ini.

Pa…boleh tidak kalau kia bekerjanya mulai hari senin aja ?

Emang kenapa nak ?

Brian mau ajak Kia pa jalan-jalan, boleh yah pa , “ bujuk Brian lembut “

Boleh aja, tapi ingat harus hati-hati yah nak bawa mobilnya “ pinta laki-laki separuh baya itu “.

Terimakasih yah pak, “ ujarku begitu Brian menarik tanganku keluar pintu ruangan.

Kok kamu mau sih berteman sama aku, padahal kan kita baru sekali bertemu, itu pun Cuma di klinik aja ? dan kenapa kamu KOAS di samosir ? kenapa nggak ke daerah lain ?“ tanyaku penasaran “

Samosir itu kan kampung nenek ku, yah walaupun nenek sudah meninggal, kenangan itu selalu ada.

Yakin alasannya Cuma itu ? “ tanyaku masih belum puas dengan jawaban yang di berikan Brian, entah kenapa sepertinya Brian masih menyimpan sesuatu di dalam hatinya, sesuatu yang susah dia ungkapkan.

Yakin dong, “ jawab Brian mantap dengan mata memandang lurus ke pantai lepas ancol.

Terimakasih yah Dokter Brian, kamu sudah membantuku untuk diterima bekerja di perusahaan papa kamu “ seruku memandang wajahnya yang mulus dengan ditumbuhi bulu-bulu halus yang semakin membuatnya terlihat sweet, dan menurutku dia terlalu cantik untuk menjadi seorang laki-laki “.

Oh soal itu, it’s ok…

Apa sih yang membuat kamu ingin mengenalku dan mau berteman dengan ku ?

Aku telah melihat kamu di klinik waktu itu, memperlakukan dan menjaga ayah kamu dengan setulus hati kamu, dan memperlakukan para suster dengan sangat sopan dan ramah.

Terus apa kaitannya ?

Yah…aku merasa kamu akan jadi ibu yang baik nanti…

Itu sih sudah pasti “ jawabku   sedikit percaya diri “.

Terus kenapa ?

Aku ingin menikah dengan kamu ?

Kok gitu ? kenapa bisa ? “ tanyaku seakan tak percaya dengan semua ini “.

Aku juga nggak tau, tapi yang jelas ini pertama kalinya aku merasa bahagia melihat seorang wanita, dan dapat menggambarkan bagaimana kehidupan keluargaku nanti akan di bangun.

Sok tau….” Jawabku bercanda “.

Ini serius loh Kia…

Udah ah…kita pulang aja, udah malam nih “ bujukku menarik tangannya yang lembut menuju parkiran mobil.

***

Mba Kia, selamat pagi “ sapa bu Fida begitu melihatku nongol di pintu masuk “.

Selamat pagi bu “ jawabku ramah “

Pak Joan memanggil mbak Kia untuk dating keruangannya sekarang “ seru bu Fida “

Pak Joan ? siapa bu ?

Pemilik perusahaan ini ? “ jawab bu Fida mantap menuntunku ke ruangan pak Joan “.

Selamat pagi pak “ sapaku begitu pintu ruangan dibuka “

Selamat pagi Kia, silahkan duduk

Ada apa ya pak saya di panggil kesini ? “ tanyaku tanpa basa-basi “.

Terimaksih yah Kia, kamu sudah mengembalikan hidup anakku kembali “.

Maksudnya gimana pak ?

Apa dokter Brian pernah meninggal ? “ tanyaku benar-benar ingin tau alasan dibalik itu “.

Oh bukan itu “ jawab pak Joan cepat memotong omonganku. Kamu telah berhasil membawa kembali semangat hidupnya semenjak kematian ibunya setahun yang lalu. Sungguh setahun ini dia benar-benar terpenjara dengan kesedihan atas kepergian ibunya dan baru tersenyum setelah bertemu dengan kamu, dan Brian telah banyak cerita sama saya bahwasanya kamu mirip sekali dengan ibunya, dia melihat sesosok ibu dalam diri Kia, dari cara kamu berbicara, bercanda dan bersikap itu mirip sekali dengan ibunya Brian, tapi malang penyakit itu berhasil sebagai pemenang dan ibu nya Brian menyerah”.

Turut berduka cita ya pak, “seruku seakan ikut terbawa suasana dan bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Brian dan bahkan juga pak Joan, hanya saja pak Joan tidak menunjukkannya karena dia tak ingin Brian semakin terpuruk dengan kesedihannya.

Terimakasih yah pak telah menerima saya dan member kesempatan untuk bekerja di perusahaan bapak, “ ujarku mencoba mengalihkan pak Joan dari kesedihannya.”

Sama-sama Kia, bapak juga berterimakasih karena Kia sudah hadir di hidup Brian.

Tapi kenapa Brian tidak mengikuti jejak pak Joan untuk bergelut di bisnis ? kenapa dia malah memilih jadi dokter ?

Sebenarnya itu semua karena ibunya, semanjak ibunya di deteksi mengidap penyakit kanker, akhirnya Brian memutuskan untuk menemukan obat untuk menyembuhkan ibunya dengan cara masuk dunia kedokteran, namun takdir berkata lain, ibunya Brian meninggal sebelum semua itu bisa diwujudkannya dan itulah yang membuat Brian semakin merasa bersalah dan sedih “.

Kia sendiri cita-citanya jadi apa ? kenapa memilih untuk jadi IT ?

Sejak kecil samapai sekarang, saya bercita-cita jadi dokter bedah, hanya saja cita-cita itu tidak pernah terwujud karena factor ekonomi yang tidak memadai.  Jika tidak bisa jadi dokter manusia maka dokter computer juga tak mengapa.

Kamu serius ingin jadi dokter bedah ?

Ia pak, tapi itu cita-cita lama pak dan nggak mungkin terjadi lagi.

Semuanya bisa jadi mungkin, gimana kalau kamu saya kuliahkan jurusan kedokteran ?

Serius pak ? bapak nggak bercanda ?

Tentu saja saya tidak bercanda, tapi dengan satu syarat, kamu harus sudah menikah dulu dengan anak saya sehingga saya bisa yakin bahwa Brian bersama dengan orang yang tepat. Gimana ? apa kamu setuju ?

Kalau saya sih setuju aja pak, hanya saja Brian mungkin tidak ingin menikah dengan saya.

Justru Brian yang menyuruh saya untuk memintamu menikah dengannya.

Serius pak ? “ tanyaku seakan tak percaya “, oh my God ini seperti mimpi indah…apa aku sedang bermimpi ????

Kia…” seru pak Joan menyadarkanku dari ketidak percayaan ini “.

Kia setuju nggak dengan usul saya ? “ Tanya pak Joan kembali memastikan dengan penuh harapan “

Ia, saya mau pak “ sahut Kia dengan masih tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya barusan “.

Akhirnya setelah beberapa bulan bersama Brian, Kia semakin merasa dan semakin tertarik dengan laki-laki berkharisma itu, terkadang Kia menatap Brian dengan sangat lama seakan Kia tak ingin berpisah darinya, dan itulah yang memang diinginkan hatinya dari lubuk hatinya yang paling dalam “.

Pernikahan Kia dan Brian pun berjalan dengan lancer dan tak kurang suatu apapun, kini mereka tinggal bersama di rumah Brian di daerah pondok indah.

Sekarang kia panggil saya Papa yah, sebagaimana Brian memanggil saya, karena Kia sudah papa anggap seperti putri papa sendiri “ begitulah pinta pak Joan tepat di tengah para tamu “.

Kia kini tak lagi bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh membanjiri muka imutnya yang terbalut make up hari ini yang semakin membuatnya terlihat cantik, kado terindah ini seperti mimpi.

Tak hanya dapat papa baru dan keluarga baru hari ini, tapi juga profesi baru yang menantinya, yaitu sebagai dokter, dokter imut dan cantik.

Tapi sungguh tantangannya untuk menjadi dokter tidaklah semudah yang dibayangkannya, pelajaran yang sulit dan praktek yang sering membuatnya tidak bisa terlelap di malam hari, ditambah dengan gangguan si baby girl yang imut itu. Baby buah cinta mereka.

Huffff….akhirnya setelah 5 tahun, Kia bisa bernafas lega, semua ini berkat dukungan Brian dan pak Joan yang sekarang di panggilnya papa.

Tapi rupanya kebahagiaan Kia tidak cukup sampai disitu, karena Papa Joan tiba-tiba mengajaknya pulang kampong. Sungguh ini di luar dukaan karena Kia belum merencanakannya, namun rupanya rencana ini telah di atur sempurna oleh ayah, kini kami tiba di kampong ku, hanya saja papa mengajakku ke salah satu tempat yang merupakan tempat favorit dan tempat paling indah menurut ku di kampong ku. Tempat yang terletak di pinggiran danau toba dengan pemandangan indah, aku jadi teringat saat pertama kali papa dan mama mengajakku liburuan ketempat ini, saai itu aku baru kelas 5 SD, namun entah kenapa begitu melihat itu, aku berjanji dalam hatiku bahwa suatu saat aku akan membangun sebuah Rumah sakit disana, namun apa boleh dikata, cita-cita itupun menghilang seiring berjalannya waktu dengan ketidak tersediaan dana. Namun hari ini aku berada di tempat yang sama lagi, mendapati sebuah bangunan rumah sakit yang persis sama dengan coretan yang pernah ku goreskan di kanvas lusuh itu, ntah berada dimana sekarang. Pupus sudah cita-citaku untuk itu karena seseorang telah mendahuluinya membangun rumah sakit di tempat ini.

Kia “ sapa papa Joan merangkul pundakku lembut, menyadarkanku dari lamunan cita lama “.

Kok bengong, ayo masuk..” ajak papa menuntunku mendekat ke halaman rumah sakit yang sangat cozy itu “.

Sepintas melirik ke taman dan mendapati tulisan disana “ Rumah Sakit Sinar Glorya Indah “.

Perlahan kaki ku melangkah semakin mendekat ke tulisan itu, ini kan nama yang ku siapkan waktu itu ? kok bisa sama persis ? “ tanyaku dalam hati, namun kuputuskan tidak bertanya apapun kepada papa, karena pikirku dalam hati kami akan memeriksakan kesehatan si baby girl ke tempat ini setelah perjalanan panjang dari Jakarta”.

Tapi tak berapa lama papa, menuntunku menjauh dari tulisan itu menuju pintu utama rumah sakit, dan mengejutkanku dengan adanya papa dan mama serta keluarga besar disana.

Anakku, kamu pasti bingung dengan semua ini, dimana yang ada ditempat ini adalah cita-cita Kia yang telah lama Kia kubur, tapi rupanya kertas usang itu di dapati ayahmu di tempat sampah saat membereskan tempat tidur mu setelah kamu pergi merantau kejakarta dan masih disimpan menyimpannya “ ujar papa Joan menjelaskan untuk membawaku keluar dari kebingungan ini.

Hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipi mulus Kia, kaget, terharu dan beruntung “ itulah yang dirasakan Kia saat ini, hingga tak terungkapkan dengan kata-kata “. Sontak Kia memeluk papa dan Brian serta baby girl yang sedari tadi menempel di pelukan Brian. “ terimakasih papa, terimakasih saying ku, ucap Kia dalam pelukan “.

Cita-cita lama yang menurut Kia mustahil untuk diwujudkan, namun Tuhan berkata lain, semua ini diijinkannya untuk Kia miliki, dan Kia berjanji akan melayani masyarakat dengan hati, begitu juga dengan Brian”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s